Pages

Tuesday, December 17, 2019

MENCARI TUHAN YANG HILANG


( Dari Cerpen Mas Parman Mencari Tuhan karya M. Dawan Rahardjo )
Perjalanan mencari Tuhan merupakan suatu cara untuk menambah keimanan seseorang terhadap adanya zat Tuhan yang hakiki. Dengan keimanan yang tinggi seseorang bisa saja menemukan Tuhan di dalam diri mereka. Tentu Saja bukan dalam artian sebenarnya, tetapi rasa cinta dan rasa takut mereka terhadap Tuhanlah yang membuat mereka seakan  berdampingan dengan Tuhan.

Bahkan satu kali Husain ibn Mansur al-Hallaj atau dikenal dengan panggilan Al-Hallaj mengatakan Ana Al-Haq yang berarti“Akulah Kebenaran”. Seolah menyatakan dirinya memiliki salah satu dari 99 Asmaul Husna. Kalimat pendek itulah yang akhirnya membuat ulama sufi kelahiran ThurBaidhahIran Tenggara tersebut harus dieksekusi. Sufi seperti Al Hallaj berkata demikian karena merasa saat berada di puncak tertinggi yaitu Ma’rifat. Merasa sangat dekat dan seolah jadi satu. 

Selain itu dalam kisah nabi Allah, juga dikisahkan tentang pencarian Tuhan. Hal itulah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Beliau telah mencari Tuhan semenjak beliau kecil, suatu sikap yang luar biasa di kalangan anak-anak pada umumnya. Di masa kecil beliau mengenal Tuhan melalui bapaknya, yang seorang pematung berhala. Karena kecerdasan dan keimanan Nabi Ibrahim, beliau  tidak dapat menerima patung berhala sebagai Tuhan. Karena yang menciptakan patung adalah manusia, dan sungguh tidak masuk akal seorang pencipta menyembah kepada yang dicipta.

Setelah kejadian itu dimulailah perjalanan mencari Tuhan. Ia pergi dari rumahnya demi perjalanan mencari Tuhan. Di awal perjalanan beliau menemukan dua Tuhan yaitu matahari dan bulan, akan tetapi keduanya belum membuat beliau puas. Beliau kecewa sekali setelah mengetahui bahwa matahari dan bulan akan tenggelam sesuai dengan peredarannya di bumi. Usai mengalami hal itu beliau mengambil kesimpulan bahwa apa saja yang ada di alam semesta ini, pasti ada yang menciptakannya, termasuk manusia sendiri. Yang menciptakan  pastilah zat yang kekal dan maha kuasa atas segalanya.

Dalam cerpen karya M. Dawan Rahardjo yang dimuat Media Indonesia pada 25 Maret 2007, diceritakan seorang Mas Parman yang mencari Tuhan. Lewat cerpen itu si penulis mengisahkan bahwa seorang Mas Parman juga mengalami kegundahan seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Meski Mas Parman bukan nabi namun sebagai makhluk ia merasakan kegundahan yaitu belum menemukan Tuhan. Sehingga dia berusaha keras untuk menemukan Tuhan. Dengan dibantu para saudara yang menyayanginya di terus mencari jalan kebenaran menuju Tuhan.

Dalam satu narasi cerpen diceritakan bahwa sebenarnya selama ini Mas Parman sudah memiliki Tuhan. Namun mas Parman menganggap Tuhan yang ada selama ini adalah Tuhan buatan manusia. Yaitu Tuhan yang ada karena manusia yang menginformasikan- Nya. Sebagai contoh ada Trinitas di ajaran Kristen, ada Allah di ajaran Islam, ada Budha dalam ajaran Budha, dan terakhir para dewa dalam kepercayaan  Hindu. Semua itu adalah hasil dari deskripsi dari manusia, dengan berdasar kepada kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan sendiri

Mas Parman tidak percaya dengan Tuhan yang demikian, beliau hanya percaya pada Tuhan yang diinformasikan langsung oleh Tuhan. Beliau tahu bahwa Tuhan sesungguhnya memiliki petunjuk kepada umatnya yang mencari Tuhan. Yaitu melalui pendalaman ajaran agama dan mempelajari isi dari kitab suci agama yang dianutnya. Setelah melakukan hal demikian ada kemungkinan seseorang dapat menemukan Tuhan seiring dengan bertambahnya keimanan mereka.

Untuk melaksanakan hal itu dia memiliki cara sendiri untuk menemukan Tuhannya. Seperti mengikuti ceramah Tauhid, berdiskusi dengan ulama sampai membandingkan Tuhan yang ia miliki dengan Tuhan yang ada di agama lain.

Pencarian Tuhan akan memiliki proses yang panjang. Apalagi bagi orang yang dulunya tidak percaya adanya Tuhan, tetapi kini berusaha mencari Tuhan.

Kebimbangan di hati Mas Parman akhirnya usai setelah beliau mengetahui bahwa dapat menemui Tuhan dengan pendekatan kerohanian. Seperti pada saat menjalankan ibadah kepada Tuhan dengan penuh keikhlasan. Selain itu untuk dapat meyakini Tuhan haruslah memiliki keimanan, karena tanpa hal demikian semua sia- sia.

***
Tuhan pasti memiliki hikmah di balik itu semua. Mengapa Tuhan tidak menampakkan diri-Nya. Alangkah tidak sanggupnya setiap ciptaan bila berhadapan langsung dengan Sang Pencipta.

Salah satu contoh adalah kejadian yang pernah dialami oleh umat Nabi Musa. Mereka pernah meminta pada nabi agar dapat berhadapan langsung dengan Allah. Akhirnya  mereka diajak bersama beliau untuk naik ke bukit Thursina. Setiba disana mereka meminta untuk dapat melihat Allah secara langsung, sebagai syarat agar mereka mau beriman kepada Allah. Akhirnya Allah pun murka sehingga mereka tidak dapat melihat Allah secara langsung, malahan mendapat siksa Allah. Karena telah berani meragukan keberadaan Allah.

Itu adalah salah satu kisah yang dapat memberi pelajaran bahwa Tuhan tidak perlu dilihat secara langsung, akan tetapi cukup diyakini keeksistensian-Nya.  Dan pasti suatu saat Tuhan  akan kita temui.

Kembali ke masalah keimanan masing-masing. Keimanan nantinya akan terbagi tiga, sehingga satu diantaranya dapat mencapai kesempunaan.
Pertama, jika keimanan seseorang tinggi maka ia akan  memiliki rasa cinta dan takut kepada Tuhannya. Yang kedua iman yang sedang, maka ia beriman hanya sebatas menjauhi larangan dan melaksanakan perintah Tuhannya. Terakhir  adalah keimanan yang paling membahayakan yaitu keimanan yang rendah, hingga ditakutkan akan berubah aqidah nantinya.

Jadi pencarian Tuhan sebenarnya adalah suatu perjalanan spiritual seseorang untuk mencapai hidayah Tuhan yang ia yakini. Sebenarnya mereka yakin akan keberadaan Tuhan, akan tetapi mereka belum menemukan Tuhan tepat berdiri dihadapannya. Setelah melakukan pencarian barulah mereka sadar bahwa Tuhan amat dekat dengan mereka, sedekat urat leher mereka.

Sunday, December 15, 2019

MARI MENGENAL TUHAN


Syekh Ahmad Atailah pernah berkata, "Apabila Allah SWT telah membukakan pintu makrifat untuk seorang hamba, karena dengan makrifat Allah itu, engkau tidak perlu pada amalanmu yang memang sedikit itu. Karena, Allah telah membukakan makrifat untukmu itu, berarti Allah berkehendak memberi anugerah-Nya kepadamu, sedang amal-amal yang engkau lakukan adalah semacam pemberian ketaatan kepada-Nya. Kalau demikian, maka di manakah letaknya perbandingan antara ketaatan hamba dan anugerah yang diterima dari Allah SWT."

Makrifat kepada Allah mengandung makna mengenal Allah. Seorang hamba yang telah mengenal Allah akan merasakan kehadiran Allah setiap gerak langkah kaki, tangan, kedipan mata, pendengaran, serta akal dan pikirannya. Dia akan merasakan betapa lemahnya di hadapan Sang Khalik Yang Maha Sempurna dan yang memiliki sifat Rahman-Rahim.

Sehingga dalam segala aktivitasnya, selalu mengharapkan pertolongan Allah Yang Mahasempurna.

Seperti dicontohkan Rasulullah SAW setiap kali menghadapi pertanyaan para sahabat, tidak memberikan penjelasan yang belum Allah turunkan petunjuknya. Beliau SAW selalu memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk. Demikian kesempurnaan akhlak dan makrifat Rasulullah kepada Allah.

Makrifat kepada Allah diperlukan dalam beribadah dan beramal sehingga ia akan sampai pada tingkatan hamba yang haqqul yakin karena meyakini Allah itu ada dan tidak terpisahkan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini merupakan  hal utama sebelum melaksanakan ibadah. Sedangkan, jika seorang hamba berada pada ilmul yaqqin ketika seorang hamba mengetahui Allah itu merupakan kewajiban dan tingkatan ainul yaqqin. Ketika dia mengenal Allah, menurut ilmu Allah sendiri.
 
Makrifat pada dasarnya bukan hanya persoalan rohani semata, melainkan bagaimana kemudian dapat menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Tingkat makrifat seseorang akan terwujud dalam perilaku dan cara menafsir sebuah fenomena sosial tertentu. Apa yang menjadi fakta kehidupan tidak luput dari objek tafakur. Apa yang terjadi pada kehidupan manusia tidak luput dari kehendak Allah Yang Mahakuasa. Sebagai hamba yang serbaterbatas, manusia diharapkan dapat berintrospeksi terhadap apa yang selama ini diperbuat.

Kini, mari kita bertafakur terhadap apa yang menimpa bangsa ini, mulai dari hal kecil hingga yang paling besar. Kita bisa mengambil contoh, misalnya, yang kini sedang menimpa bangsa ini, yaitu kabut asap. Kabut asap telah berbulan-bulan belum terselesaikan, bahkan semakin meluas kerusakan hutan dan akibatnya.

Banyak sudah masyarakat menjadi korban, baik meninggal maupun sakit. Masyarakat kehilangan aktivitas pekerjaan atau tidak sekolah karena terhalang kabut asap. Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, pasukan BNPB dibantu TNI, Polri, dan negara-negara lain berjibaku, tetapi belum membuahkan hasil.

Wahai manusia, alam jagat raya ini milik Allah. "... Milik–Nya apa yang ada di langit dan bumi...." (QS al-Baqarah [2]: 255). Ayat ini menjelaskan diri kita, api, asap, tanaman, tanah, air semuanya milik Allah SWT.

Kini, mari kita bertanya pada diri kita seberapa luas jangkauan tangan kita, seberapa jauh langkah kaki kita, seberapa luas ilmu kita, seberapa kuat tenaga kita, dan seberapa sabar kita untuk mengatasi masalah itu dibanding dengan pasukan Allah.

Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi alam dunia, juga alam akhirat. Seluruh makhluk akan tunduk kepada Sang Pencipta dan pemilik alam ini, yaitu Allah SWT. Lalu, apa yang mesti kita yakini? Bencana ini diakibatkan oleh ketamakan serta keserakahan atau kebodohan kita sebagai manusia pemegang amanah Allah untuk menggunakan alam bagi kesejahteraan manusia.

Kini, saatnya kita semua kembali kepada Allah, bertobat, memohon pertolongan serta meyakinkan diri kita tidak mengulangi perbuatan itu kembali. Setelah kita yakin pada Allah, saatnya bergerak untuk memadamkan api, "kun fayakun", maka jadilah api padam dengan izin dan perintah Allah SWT yang Rahman dan Rahim. Wallahu a'lam.